Sabtu, 20 Desember 2014

Happy Wedding

Ini bukan cuma tentang kamu
Ini bukan cuma tentan dia
Namun, saat ini menjadi tentang kalian
Ketika,
Deklarasi ijab qabul yang menghalalkan
Nafkah halal yang memudahkan

Tapi bukan sekedar di titik itu
Ini menjadi proses dalam perjalanan tanpa akhir
Proses yang selalu sambung menyambung
Ketika dia yang kamu kenal bisa kamu pahami
Ketika dia yang marah bisa kamu mengerti
Ketika dulu hanya kamu, kini ada dia, kalian dan mereka
Pernikahan sebuah paket
Ketika susah menjadi lebih mudah saat dibagi berdua
Ketika sulit menjadi lebih ringan saat dipikul berdua
Ketika bahagia menjadi membahagiakan saat bersama

Semoga menjadi keluarga Sakinah
Merasakan bagaimana keluarga Mawaddah
Membentuk keluarga yang Warahmah
OSI/006/Musculo/053

Jumat, 19 September 2014

Kardus Kecil


Duduk tersungkur, di sudut kamar yang menghakimi kemalangan ini membuat mata terbelalak menyadari kenyataan. Tiada sosok lain selain bayangan diri di bawah lampu redup, dalam ruangan serba sempit, sesak dan kecil itu. Disana mata terbuka dan pikiran meraba tentang masa depan dan masa lalu yang tak terajut dengan kenyataan. Sakit mendapati tragedi dunia yang terjadi pada diri.
Kutipan kecil tentang mimpi dan dunia indah yang berada di luar batas ruang ini membuat tangan dan pikiran bekerja lebih keras dari sekedar duduk dalam lamunan. Mencari jawaban atas kebingungan ini. Apakah itu sebuah ilusi? Mungkinkah sebuah dongeng? Bisakah aku masuk dan ikut serta dalam pentas dongeng indah itu. Tragedi apa yang sedang terjadi sehingga tak terlihat pintu di salah satu dinding yang membatasi gerak tubuhku. Aku bahkan tak melihat kebenaran seperti dongeng indah itu, selain kenyataan tentang kepahitan yang terlihat selama ini.
Sampai dimana usaha ini, usaha tubuh dan tenaga ini untuk berjuang mencapai tujuan yang tertuang dalam mimpi-mimpi. Akan kah terus seperti ini, asa yang tidak akan mampu menembus dinding yang membatasi bayangan dalam ruang yang terbatas ini. Malang ketika menyadari khayalan mampu menerawang menembus tidak sekedar dinding namun juga waktu. Namun, pada kenyataannya khayalan saja yang memiliki hak untuk ber-teleportasi sementara takdir tidak untuk itu.
Sejak dulu tak seorang pun yang mendengar khayalan itu dari balik dinding rumah sempit ini. Tak seorang pun bahkan mampu memahami khayalan-khayalan sederhana ini.  
Aku ini memang bukan darah yang mengalir dalam darahmu, tidak memiliki nama belakang yang sama dengan nama belakangmu, bahkan mungkin tidak dilahirkan di Rumah Sakit super mewah sepertimu. Tapi setidaknya aku tau, bahwa tubuh ini diciptakan oleh Dzat yang sama. Ruh ini diberikan oleh Pencipta yang sama.
Beri aku ruang Tuhan, untuk hanya sekedar mengekspresikan pada dunia tentang harapan kecilku ini, mengatakan pada mereka bahwa aku begini bukan karena keinginanku, bukan karena kecilnya usahaku, tapi ketidakberdayaanku atas himpitan ruang mereka yang lebih besar. Kesempatan yang mereka habiskan untuk nama yang sama. Kesempatan yang mereka bagi dengan pemilik ruang yang setara. Bukan pada kami marmut kecil yang punya kesempatan namun kalah dengan kekuasaan.
Aku hanya ingin menyadarkan mereka para saudaraku. Aku ingin mengatakan pada mereka yang menghimpit pintu kesuksesanku dengan sebuah pertanyaan, “apakah sudah binasa seonggok nurani dalam hati?”. Mungkin kah hujan akan turun? Atau justru petir yang pertama kali akan menyambar dinding rapuh ini? Bukan tuntutan yang aku lontarkan, hanya sebuah keprihatinan tentang matinya sebuah kasih sayang dan simpati. Ku kira lebih baik, berada dalam ruang kecil dibanding dalam ruang besar yang mengabaikan ruang kecil serta mampu memusnahkan asa.
Tamak. Matilah bersama sisa-sisa tulang belulang yang tak berdaya!

Senin, 25 Agustus 2014

Diam sinyal kasih sayangku


Ketika kaki terus bergulir menuju jalan setapak di depan, ketika itu aku memperhatikan langkahmu. Entah bagaimana pusatku teralihkan kembali pada perjalanan kali ini, meski sudah sejak awal aku membatasi pikiranku dan perasaanku untuk berhenti mendekati imajinasiku. Khayalan tentang senyuman mu yang kelak akan menemaniku hingga tua menjelang, semua aku pupuskan dalam-dalam jauh sebelum sampai datangnya hari ini.
Sore hari dengan topangan yang kamu berikan, perjalanan itu terus mengacaukan hatiku. Kenyataannya aku berkata terimakasih, tetapi dalam hatiku berteriak ‘lagi-lagi aku menemukanmu dalam hatiku’. Dan kini aku kisahkan perjalanan panjangku di belakang langkah kakimu.

Pagi buta, aku melihat ada yang aku tunggu untuk segera aku temui
Pagi buta, dari jarak ratusan kilo ada yang aku harap segera aku temui
Berlari mengitari rasa rindu ingin bertemu aku tahan
Berlari mendekati waktu segera datang aku lakoni
Detik itu tiba, ketika aku menemui apa yang aku ingini
Di balik sepasang mata yang belum sempat aku sapa lekat
Di balik wajah yang ingin aku pandangi
Kebiasaan lama aku jalani
Malam gelap, hawa dingin.
Di bawah pantulan bulan yang setengah terang
Aku memandangi dirimu
Aku sampaikan rinduku

Kamu tau, hari kemarin menjadi pengawal hari terindah ku di pagi ini. Perilakumu itu menahan mataku untuk terpejam, mereka seakan protes kalau nanti aku tertidur dan melewatkan hari ini.

Ada langkah yang aku tahan
Ada rasa juga yang aku simpan
Ketika kaki terus melangkah beriringan
Aku berharap hati kita pun demikian
Entah dari mana ide itu berasal
Mungkin karena aku terlalu banyak berkhayal

to be continued

Minggu, 13 Juli 2014

Antara keinginan dan harapan


Tanyakan tentang keinginan, harapan, serta doa-doa yang aku panjatkan 
Beri aku pilihan untuk tujuan hidupku
Tanyakan sekali tentang apa yang membahagiakan bagi duniaku
Tanyakan apa yang membuka pintu-pintu bahagiaku
Tapi sekali lagi
Ku tutup kembali kedua mataku
Ku hapus lagi semua keluh kesahku
Dan, aku!
Membuka mata dan melihat dunia
Betapa
Egois dan tamak pikiranku
Aku di atas dunia yang sama bersama mereka
Dan
Betapa besar keinginan itu atasku
Tiada membahagiakan dibanding doa mereka

Ini keputusanku atau keputusan mereka
Aku harap turunlah ridho-Mu atas jalan ini
Jalan-jalan berduri atau elok pun ku lalui
Naik turun kendaliku
Sesekali aku sesali
Namun penyesalan itu berujung penerimaan kembali
Berkali-kali ku dapati diriku seperti ini
Berkali-kali ku temukan kebimbangan ini

Lihat mereka yang terbaring dengan lemahnya
Betapapun pahit pil itu, mereka telan agar berlalu penderitaan
Kenyataannya,
Kepahitan itu yang akan mengantarkan mereka
Entah itu pada indahnya dunia
Entah itu pada betapa luasnya surga
Namun satu yang pasti
Tiada penyesalan atas pil pahit yang mereka telan
Puas atas usaha yang mereka lakukan

Begitukah aku selama ini?
Apakah aku habiskan waktu seperti itu?
Aku rasa keluhku lebih banyak dari peluhku

Betapa penuh lumpur dan laknatnya
Mengapa harus ku hujat
Do’a
Harapan
Ketulusan
Yang makbul itu
Mengapa ku aniaya dan sayat hati rapuh itu
Batin
Cita-cita tulusnya

Bila ada saatnya mohon maki diriku
Namun bersihnya cintamu
Tak sanggup nodai cintamu untukku
Luasnya maafmu
Tak sanggup tertutup untuk penghinaanku

Aku sesali kebodohanku
Aku temui keegoanku
Kan ku redam
Meski itu harus mengubur keinginanku
Doakan aku, nona
Ikhlas langkahku
Lapang dadaku
Luas pengalamanku
Sanggup ku nikmati perjalanan ini
Ku serahkan seluruhnya pada-Mu

Jumat, 11 April 2014

Niat menentukan hasil


Lagi lagi matahari menantang hari dengan cahaya indahnya. Kehangatan ini menyambut pandanganku di pagi hari ketika aku terasingkan kembali dari nafas-nafas hidupku. Aku harap mentari terus seperti ini, dan tak pernah lelah tuk selalu menemani pagi hariku. Angin pagi yang menerpa kulit menyadarkan aku bahwa banyak hal yang harus dilakukan setelah ini.

Bagaimana menggambarkannya, seseorang yang sedang belajar membiasakan diri, menikmati dan menyukai jalan yang dilaluinya. Mungkin dia hanya sanggup berjalan namun tanpa nyawa. Waaah, dalem banget kayaknya. Seperti itu yang saya rasakan saat masuk kuliah di semester dua ini, ada rasa ragu dalam hati. Mampukah sekali lagi saya jalani hidup seperti ini, akankah ‘dewi fortuna’ datang lagi setelah berkali-kali ia datang memberikan keajaiban dalam hidup yang telah saya lalui sebelumnya.

Entah kenapa awal blok ini, saya merasa tak ada kekuatan lebih untuk mengangkat bahu lebih tegap. Saya memang menjalaninya, tapi tidak ada keinginan lebih untuk mengetahui apa yang akan saya jalani, tapi saya juga tidak terpaksa melakukannya. Saya hanya mengikuti kaki yang melangkah dan naluri yang bergerak sendiri. Jasad ini sama sekali tak menolak, tapi entah kenapa terkadang hati ini gelisah melakukannya.

Saya menjalani segala kegiatan kuliah mulai dari ngampus, diskusi kasus, nge-lab maupun melaksanakan tugas-tugas untuk segera mengakhiri blok pertama. Semua saya niatkan seperti itu. Dari pagi hingga siang yang terlihat adalah tulisan demi tulisan, slide demi slide dan materi demi materi. Tapi tak sedikitpun hal yang mampu saya tangkap dari apa yang terlihat. Karena saat itu, saya hanya sekedar melihat dan mendengar tanpa mencoba menyukai dan memahami. Dan yang terlihat memang seperti itu, saya menjalani segalanya tanpa rasa. Selain duduk manis saat kuliah, pulang mengerjakan tugas, saya juga datang praktikum agar dapat mengikuti ident sebagai penentu kelulusan. Jadwal dalam blok ini sangat padat, masuk pagi dan pulang sore. Sampai setengah perjalanan, saya masih merasa sanggup untuk mengikuti kegiatan dengan baik.

Seperti kata mereka yang fasih mengatakan ‘ketika roda berputar, maka salah satu sisi kan berada di bawah ketika sisi yang lain ada di atas’. Sungguh sangat sederhana, namun sulit tuk menerima kenyataannya. Karena pada dasarnya, tidak sedikit dari kita yang merasa ada ketidakadilan ketika datang  kesulitan, dan bukan karena keberuntungan kebahagiaan datang. Yaa, mungkin kali ini saya pun lagi lagi merasa seperti itu. Minggu-minggu akhir blok mulai terasa berat dan harus mengeluarkan tenaga yang cukup untuk bisa melewatinya. Karena beberapa hal mendesak saya untuk menambah waktu belajar dari waktu perkiraan. Inilah hasil yang tidak maksimal dari usaha yang tak maksimal juga. Dalam keadaan seperti ini pikiran dan tenaga harus bisa saling mendukung, dan saya hanya bisa berdoa dalam kebisuan, sehatkan pikiran dan jasmani agar bisa terlewati hari-hari penentu dengan baik.

Oh tuhan, begini yang saya jalani selama enam minggu terakhir ini. Sadarkan aku dari keterpakuanku dalam keheningan. Mohon bangunkan energy-ku dalam tidur panjangnya. Beberapa hal membuatku sadar bahwa aku menyiakan waktu dan kesempatan untuk beberapa saat. Dan lagi lagi, aku menyadari kesalahan itu setelah aku melewatinya. Dan semoga ini menjadi pelajaran untuk selanjutnya, bahwa apa yang sudah ada merupakan rahmat dan anugerah dari Allah. Ia berikan yang terbaik dan apa yang dibutuhkan oleh makhluk-Nya. Dan sekali lagi, bersyukur dengan apa yang didapatkan adalah hal yang paling baik untuk dilakukan. Karena dengan hal tersebut, hati kan mendapat ketenangan dan jauh dari rasa gelisah. Serta perbaiki niat awal ketika kita akan memulai segala sesuatu hal.

Senin, 31 Maret 2014

RADIUS OSIPITAL



Mentari minggu pagi di akhir bulan Maret tahun ini terlihat melebarkan sayap hangatnya, cahayanya  menerpa kulit dengan lembut. Cuaca pagi ini begitu cerah dan cocok untuk agenda Radius bersama Osipital. Kali ini kita tidak membahas radius sahabatyna ulna, tetapi Radius dalam arti ‘Rafting Di Sungai Serayu’. Rafting ini merupakan salah satu program kerja UKM Osipital dari Fakultas Kedokteran Unsoed, jadi kegiatan arung jeram dilaksanakan sekali dalam setahun.
Ini merupakan pengalaman pertama arung jeram buat saya, dan saya melakukannya bersama kakak Osi dan beberapa peserta yang berasal dari luar Universitas Unsoed. Sesuai susunan acara yang telah dibuat, seharusnya pagi ini kami berkumpul di kampus kedokteran pukul 5.30 dan berangkat pukul 06.00. Namun, karena menemui sedikit kendala, keberangkatan diundur menjadi pukul 07.00. Kami berangkat menuju base camp Banyu Woong yang terletak di Kecamatan Madukara, Kabupaten Banjarnegara. Perjalanan ditempuh selama dua jam dengan menggunakan dua mini bus dan satu truk TNI.
Saat tiba di base camp rafting Banyu Woong kita langsung diminta mengganti pakaian medan yang dibawa masing-masing peserta. Selanjutnya kita akan mendapatkan perlengkapan yang wajib dibawa dan digunakan. Nah, perlengkapan itu berupa helm, jaket pelampung dan dayung yang sudah disediakan oleh pihak pengelola rafting Banyu Woong. Satu lagi yang menurut saya juga harus kita pakai bila tidak ingin kulit terbakar matahari selama menjalani rafting yang lumayan lama yaitu lotion sunblock.
Setelah semua peserta siap melakukan persiapan, kami berangkat menuju start awal. Dari basecamp menuju ke sungai yang menjadi start awal arung jeram lumayan jauh, bila ditempuh menggunakan kendaraan sekitar 15 menit. Sebelum memulai arung jeram, kita diberi penjelasan singkat tentang pengetahuan dasar arung jeram, seperti cara memegang dayung yang benar, istilah dayung maju, dayung mundur dan yang paling penting istilah “boom” yaitu yang harus kita lalukan saat melewati jeram yang deras.
Satu perahu untuk rafting diisi oleh enam orang. Karena peserta kali ini berjumlah 50 orang, maka kelompok raftingnya dibagi menjadi delapan perahu serta satu perahu tim rescue. Satu perahu  peserta rafting  akan ditemani dan dipandu oleh  satu guide.
Sungai yang dipakai untuk rafting ini cukup deras arusnya, namun tidak menjadi kendala bagi para peserta  yang begitu senang mengikuti kegiatan ini. Sepanjang perjalanan kita akan melalui daerah persawahan dan perkebunan penduduk dan pemukiman penduduk desa. Jadi jangan heran bila ada beberapa warga desa yang sedang sibuk beraktivitas seperti memancing di tepi sungai saat kita rafting.
Keceriaan terlihat sangat jelas dari wajah para peserta rafting. Mereka tidak terlihat takut ketika melewati arus-arus yang deras, justru terlihat sangat menikmati. Banyak saja tingkah aneh dari para peserta dan tidak sedikit pula yang iseng mendorong temannya agar jatuh ke sungai dengan arus tenang. Jadilah mereka menikmati coffeemix sungai serayu. Wah wah wah, saling dorong dan saling siram adalah kegiatan yang terlihat selama perjalanan menyusuri sungai serayu.
Tak terasa perjalanan sepanjang 16 km kita tempuh selama kurang lebih dua jam dan akhirnya kita sampai di finish, walaupun badan rasanya cukup lelah tapi semuanya terbayar dengan kepuasan selama 2 jam. Bersenang-senang dengan kegiatan yang sedikit memacu adrenalin dan menantang alam dengan teman-teman  dan yang lebih penting lagi bisa refreshing dari kegiatan kampus yang lumayan padat dan menguras pikiran yang terkadang bikin stress.
Setelah kembali tiba di base camp pukul 12.00, peserta langsung mandi dan solat duhur. Setelah itu, kami menyantap makan siang di pendopo Banyu Woong yang telah dihidangkan oleh pihak pengelola. Acarapun ditutup dengan memberikan kesan dan pesan dari para peserta.
Kegiatan rafting ini mungkin bisa dijadikan alternatif kegiatan outbound karena selain bisa mengenal alam sekitar, olah raga air ini juga bisa menjadi ajang kekompakan antar teman sekaligus refreshing buat kita yang sehari-hari berkutat dengan rutinitas di kampus maupun kantor.