Minggu, 13 Juli 2014

Antara keinginan dan harapan


Tanyakan tentang keinginan, harapan, serta doa-doa yang aku panjatkan 
Beri aku pilihan untuk tujuan hidupku
Tanyakan sekali tentang apa yang membahagiakan bagi duniaku
Tanyakan apa yang membuka pintu-pintu bahagiaku
Tapi sekali lagi
Ku tutup kembali kedua mataku
Ku hapus lagi semua keluh kesahku
Dan, aku!
Membuka mata dan melihat dunia
Betapa
Egois dan tamak pikiranku
Aku di atas dunia yang sama bersama mereka
Dan
Betapa besar keinginan itu atasku
Tiada membahagiakan dibanding doa mereka

Ini keputusanku atau keputusan mereka
Aku harap turunlah ridho-Mu atas jalan ini
Jalan-jalan berduri atau elok pun ku lalui
Naik turun kendaliku
Sesekali aku sesali
Namun penyesalan itu berujung penerimaan kembali
Berkali-kali ku dapati diriku seperti ini
Berkali-kali ku temukan kebimbangan ini

Lihat mereka yang terbaring dengan lemahnya
Betapapun pahit pil itu, mereka telan agar berlalu penderitaan
Kenyataannya,
Kepahitan itu yang akan mengantarkan mereka
Entah itu pada indahnya dunia
Entah itu pada betapa luasnya surga
Namun satu yang pasti
Tiada penyesalan atas pil pahit yang mereka telan
Puas atas usaha yang mereka lakukan

Begitukah aku selama ini?
Apakah aku habiskan waktu seperti itu?
Aku rasa keluhku lebih banyak dari peluhku

Betapa penuh lumpur dan laknatnya
Mengapa harus ku hujat
Do’a
Harapan
Ketulusan
Yang makbul itu
Mengapa ku aniaya dan sayat hati rapuh itu
Batin
Cita-cita tulusnya

Bila ada saatnya mohon maki diriku
Namun bersihnya cintamu
Tak sanggup nodai cintamu untukku
Luasnya maafmu
Tak sanggup tertutup untuk penghinaanku

Aku sesali kebodohanku
Aku temui keegoanku
Kan ku redam
Meski itu harus mengubur keinginanku
Doakan aku, nona
Ikhlas langkahku
Lapang dadaku
Luas pengalamanku
Sanggup ku nikmati perjalanan ini
Ku serahkan seluruhnya pada-Mu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar