Tanyakan tentang keinginan, harapan, serta doa-doa yang aku panjatkan
Beri aku pilihan untuk tujuan hidupku
Tanyakan sekali tentang apa yang
membahagiakan bagi duniaku
Tanyakan apa yang membuka
pintu-pintu bahagiaku
Tapi sekali lagi
Ku tutup kembali kedua mataku
Ku hapus lagi semua keluh kesahku
Dan, aku!
Membuka mata dan melihat dunia
Betapa
Egois dan tamak pikiranku
Aku di atas dunia yang sama bersama mereka
Dan
Betapa besar keinginan itu atasku
Tiada membahagiakan dibanding doa
mereka
Ini keputusanku atau keputusan
mereka
Aku harap turunlah ridho-Mu atas
jalan ini
Jalan-jalan berduri atau elok pun ku
lalui
Naik turun kendaliku
Sesekali aku sesali
Namun penyesalan itu berujung
penerimaan kembali
Berkali-kali ku dapati diriku
seperti ini
Berkali-kali ku temukan kebimbangan ini
Lihat mereka yang terbaring dengan
lemahnya
Betapapun pahit pil itu, mereka
telan agar berlalu penderitaan
Kenyataannya,
Kepahitan itu yang akan mengantarkan
mereka
Entah itu pada indahnya dunia
Entah itu pada betapa luasnya surga
Namun satu yang pasti
Tiada penyesalan atas pil pahit yang
mereka telan
Puas atas usaha yang mereka lakukan
Begitukah aku selama ini?
Apakah aku habiskan waktu seperti
itu?
Aku rasa keluhku lebih banyak dari
peluhku
Betapa penuh lumpur dan laknatnya
Mengapa harus ku hujat
Do’a
Harapan
Ketulusan
Yang makbul itu
Mengapa ku aniaya dan sayat hati
rapuh itu
Batin
Cita-cita tulusnya
Bila ada saatnya mohon maki diriku
Namun bersihnya cintamu
Tak sanggup nodai cintamu untukku
Luasnya maafmu
Tak sanggup tertutup untuk
penghinaanku
Aku sesali kebodohanku
Aku temui keegoanku
Kan ku redam
Meski itu harus mengubur keinginanku
Doakan aku, nona
Ikhlas langkahku
Lapang dadaku
Luas pengalamanku
Sanggup ku nikmati perjalanan ini
Ku serahkan seluruhnya pada-Mu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar