Jumat, 19 September 2014

Kardus Kecil


Duduk tersungkur, di sudut kamar yang menghakimi kemalangan ini membuat mata terbelalak menyadari kenyataan. Tiada sosok lain selain bayangan diri di bawah lampu redup, dalam ruangan serba sempit, sesak dan kecil itu. Disana mata terbuka dan pikiran meraba tentang masa depan dan masa lalu yang tak terajut dengan kenyataan. Sakit mendapati tragedi dunia yang terjadi pada diri.
Kutipan kecil tentang mimpi dan dunia indah yang berada di luar batas ruang ini membuat tangan dan pikiran bekerja lebih keras dari sekedar duduk dalam lamunan. Mencari jawaban atas kebingungan ini. Apakah itu sebuah ilusi? Mungkinkah sebuah dongeng? Bisakah aku masuk dan ikut serta dalam pentas dongeng indah itu. Tragedi apa yang sedang terjadi sehingga tak terlihat pintu di salah satu dinding yang membatasi gerak tubuhku. Aku bahkan tak melihat kebenaran seperti dongeng indah itu, selain kenyataan tentang kepahitan yang terlihat selama ini.
Sampai dimana usaha ini, usaha tubuh dan tenaga ini untuk berjuang mencapai tujuan yang tertuang dalam mimpi-mimpi. Akan kah terus seperti ini, asa yang tidak akan mampu menembus dinding yang membatasi bayangan dalam ruang yang terbatas ini. Malang ketika menyadari khayalan mampu menerawang menembus tidak sekedar dinding namun juga waktu. Namun, pada kenyataannya khayalan saja yang memiliki hak untuk ber-teleportasi sementara takdir tidak untuk itu.
Sejak dulu tak seorang pun yang mendengar khayalan itu dari balik dinding rumah sempit ini. Tak seorang pun bahkan mampu memahami khayalan-khayalan sederhana ini.  
Aku ini memang bukan darah yang mengalir dalam darahmu, tidak memiliki nama belakang yang sama dengan nama belakangmu, bahkan mungkin tidak dilahirkan di Rumah Sakit super mewah sepertimu. Tapi setidaknya aku tau, bahwa tubuh ini diciptakan oleh Dzat yang sama. Ruh ini diberikan oleh Pencipta yang sama.
Beri aku ruang Tuhan, untuk hanya sekedar mengekspresikan pada dunia tentang harapan kecilku ini, mengatakan pada mereka bahwa aku begini bukan karena keinginanku, bukan karena kecilnya usahaku, tapi ketidakberdayaanku atas himpitan ruang mereka yang lebih besar. Kesempatan yang mereka habiskan untuk nama yang sama. Kesempatan yang mereka bagi dengan pemilik ruang yang setara. Bukan pada kami marmut kecil yang punya kesempatan namun kalah dengan kekuasaan.
Aku hanya ingin menyadarkan mereka para saudaraku. Aku ingin mengatakan pada mereka yang menghimpit pintu kesuksesanku dengan sebuah pertanyaan, “apakah sudah binasa seonggok nurani dalam hati?”. Mungkin kah hujan akan turun? Atau justru petir yang pertama kali akan menyambar dinding rapuh ini? Bukan tuntutan yang aku lontarkan, hanya sebuah keprihatinan tentang matinya sebuah kasih sayang dan simpati. Ku kira lebih baik, berada dalam ruang kecil dibanding dalam ruang besar yang mengabaikan ruang kecil serta mampu memusnahkan asa.
Tamak. Matilah bersama sisa-sisa tulang belulang yang tak berdaya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar