Duduk tersungkur, di sudut kamar yang menghakimi kemalangan
ini membuat mata terbelalak menyadari kenyataan. Tiada sosok lain selain
bayangan diri di bawah lampu redup, dalam ruangan serba sempit, sesak dan kecil
itu. Disana mata terbuka dan pikiran meraba tentang masa depan dan masa lalu
yang tak terajut dengan kenyataan. Sakit mendapati tragedi dunia yang terjadi
pada diri.
Kutipan kecil tentang mimpi dan dunia indah yang berada di
luar batas ruang ini membuat tangan dan pikiran bekerja lebih keras dari
sekedar duduk dalam lamunan. Mencari jawaban atas kebingungan ini. Apakah itu
sebuah ilusi? Mungkinkah sebuah dongeng? Bisakah aku masuk dan ikut serta dalam
pentas dongeng indah itu. Tragedi apa yang sedang terjadi sehingga tak terlihat
pintu di salah satu dinding yang membatasi gerak tubuhku. Aku bahkan tak
melihat kebenaran seperti dongeng indah itu, selain kenyataan tentang kepahitan
yang terlihat selama ini.
Sampai dimana usaha ini, usaha tubuh dan tenaga ini untuk
berjuang mencapai tujuan yang tertuang dalam mimpi-mimpi. Akan kah terus
seperti ini, asa yang tidak akan mampu menembus dinding yang membatasi bayangan
dalam ruang yang terbatas ini. Malang ketika menyadari khayalan mampu
menerawang menembus tidak sekedar dinding namun juga waktu. Namun, pada
kenyataannya khayalan saja yang memiliki hak untuk ber-teleportasi sementara
takdir tidak untuk itu.
Sejak dulu tak seorang pun yang mendengar khayalan itu dari
balik dinding rumah sempit ini. Tak seorang pun bahkan mampu memahami
khayalan-khayalan sederhana ini.
Aku ini memang bukan darah yang mengalir dalam darahmu, tidak
memiliki nama belakang yang sama dengan nama belakangmu, bahkan mungkin tidak
dilahirkan di Rumah Sakit super mewah sepertimu. Tapi setidaknya aku tau, bahwa
tubuh ini diciptakan oleh Dzat yang sama. Ruh ini diberikan oleh Pencipta yang
sama.
Beri aku ruang Tuhan, untuk hanya sekedar mengekspresikan
pada dunia tentang harapan kecilku ini, mengatakan pada mereka bahwa aku begini
bukan karena keinginanku, bukan karena kecilnya usahaku, tapi
ketidakberdayaanku atas himpitan ruang mereka yang lebih besar. Kesempatan yang
mereka habiskan untuk nama yang sama. Kesempatan yang mereka bagi dengan
pemilik ruang yang setara. Bukan pada kami marmut kecil yang punya kesempatan
namun kalah dengan kekuasaan.
Aku hanya ingin menyadarkan mereka para saudaraku. Aku ingin
mengatakan pada mereka yang menghimpit pintu kesuksesanku dengan sebuah
pertanyaan, “apakah sudah binasa seonggok nurani dalam hati?”. Mungkin kah
hujan akan turun? Atau justru petir yang pertama kali akan menyambar dinding
rapuh ini? Bukan tuntutan yang aku lontarkan, hanya sebuah keprihatinan tentang
matinya sebuah kasih sayang dan simpati. Ku kira lebih baik, berada dalam ruang
kecil dibanding dalam ruang besar yang mengabaikan ruang kecil serta mampu
memusnahkan asa.
Tamak. Matilah bersama sisa-sisa tulang belulang yang tak
berdaya!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar