Bisakah nanti,
kita akan saling percaya. Percaya yang tidak membuat celah diantaranya. Percaya
yang tidak perlu topangan dari dunia luar. Percaya yang hanya ada dalam dunia
kita. Percaya yang kita buat dengan gaya dan cara kita sendiri. Percaya dengan
segala hal yang kita lakukan di belakang mata kita masing-masing. Percaya tanpa
peduli dengan yang lalu. Percaya pada kita yang sekarang. Percaya tanpa ragu.
Percaya tanpa luka. Percaya yang kadang menghadirkan tawa, canda dan tangis.
Percaya yang menerima. Percaya dengan hati kita satu sama lain.
Sayangnya
di sisi lain, aku bertanya?
Bisakah
nanti kita saling setia. Setia yang menutup celah untuk yang lain. Setia yang
hanya mengingat satu nama. Setia yang hanya rindu satu warna. Setia yang harum
dengan satu bayangan. Setia yang hanya ada kamu, aku dalam doa-doa kita. Setia
dengan segala ucapan kita. Setia dengan segala tingkah kita. Setia yang selalu
terang dengan kejujuran. Setia yang selalu teduh dengan kasih sayang. Setia
yang tidak menyakiti. Setia yang susah bersama-sama. Setia yang menerima satu
sama lain. Setia yang tidak bisa memandang yang lain. Setia yang saling
menghidupkan.
Sayangnya
lagi-lagi di sisi lain, aku berpikir?
Jatuh
cinta seperti apa yang bisa membuat seseorang berulang kali jatuh cinta. Jatuh
cinta seperti apa yang membuat seseorang bahkan rela kehilangan waktu
senggangnya untuk peduli kepada yang tidak peduli. Jatuh cinta macam apa yang
bahkan bisa menghentikan dunia yang berputar, menahan waktu yang berjalan, dan mendengar
irama musik dari alam sekitar.
Dan
lagi-lagi aku bingung. . . . .
Masihkah
aku percaya, bahwa masih ada kesetiaan yang didasarkan pada kepercayaan
masing-masing mereka pada jatuh cinta yang mereka buat. Meskipun satu diantara
seribu, satu diantara sejuta, satu diantara milyaran di luar sana. Aku masih
percaya masih ada mereka yang menua bersama, menjadi keriput bersama, menjadi
rapuh bersama, menjadi rabun bersama, menjadi lansia bersama. Bersama-sama,
mereka saling menguatkan, satu sama lain saling menopang, saling meringankan.
Aku
yakin, bahwa kita saling seperti ini.
Cinta
yang tidak mengenal kasta, ras, dan usia.