Lagi lagi
matahari menantang hari dengan cahaya indahnya. Kehangatan ini menyambut pandanganku
di pagi hari ketika aku terasingkan kembali dari nafas-nafas hidupku. Aku harap
mentari terus seperti ini, dan tak pernah lelah tuk selalu menemani pagi
hariku. Angin pagi yang menerpa kulit menyadarkan aku bahwa banyak hal yang
harus dilakukan setelah ini.
Bagaimana menggambarkannya,
seseorang yang sedang belajar membiasakan diri, menikmati dan menyukai jalan
yang dilaluinya. Mungkin dia hanya sanggup berjalan namun tanpa nyawa. Waaah,
dalem banget kayaknya. Seperti itu yang saya rasakan saat masuk kuliah di
semester dua ini, ada rasa ragu dalam hati. Mampukah sekali lagi saya jalani
hidup seperti ini, akankah ‘dewi fortuna’ datang lagi setelah
berkali-kali ia datang memberikan keajaiban dalam hidup yang telah saya lalui
sebelumnya.
Entah kenapa
awal blok ini, saya merasa tak ada kekuatan lebih untuk mengangkat bahu lebih
tegap. Saya memang menjalaninya, tapi tidak ada keinginan lebih untuk
mengetahui apa yang akan saya jalani, tapi saya juga tidak terpaksa
melakukannya. Saya hanya mengikuti kaki yang melangkah dan naluri yang bergerak
sendiri. Jasad ini sama sekali tak menolak, tapi entah kenapa terkadang hati
ini gelisah melakukannya.
Saya
menjalani segala kegiatan kuliah mulai dari ngampus, diskusi kasus, nge-lab
maupun melaksanakan tugas-tugas untuk segera mengakhiri blok pertama. Semua saya
niatkan seperti itu. Dari pagi hingga siang yang terlihat adalah tulisan demi
tulisan, slide demi slide dan materi demi materi. Tapi tak sedikitpun hal yang
mampu saya tangkap dari apa yang terlihat. Karena saat itu, saya hanya sekedar
melihat dan mendengar tanpa mencoba menyukai dan memahami. Dan yang terlihat
memang seperti itu, saya menjalani segalanya tanpa rasa. Selain duduk manis
saat kuliah, pulang mengerjakan tugas, saya juga datang praktikum agar dapat
mengikuti ident sebagai penentu kelulusan. Jadwal dalam blok ini sangat padat, masuk
pagi dan pulang sore. Sampai setengah perjalanan, saya masih merasa sanggup
untuk mengikuti kegiatan dengan baik.
Seperti kata
mereka yang fasih mengatakan ‘ketika roda berputar, maka salah satu sisi kan
berada di bawah ketika sisi yang lain ada di atas’. Sungguh sangat sederhana,
namun sulit tuk menerima kenyataannya. Karena pada dasarnya, tidak sedikit dari
kita yang merasa ada ketidakadilan ketika datang kesulitan, dan bukan karena keberuntungan
kebahagiaan datang. Yaa, mungkin kali ini saya pun lagi lagi merasa seperti itu.
Minggu-minggu akhir blok mulai terasa berat dan harus mengeluarkan tenaga yang
cukup untuk bisa melewatinya. Karena beberapa hal mendesak saya untuk menambah waktu
belajar dari waktu perkiraan. Inilah hasil yang tidak maksimal dari usaha yang
tak maksimal juga. Dalam keadaan seperti ini pikiran dan tenaga harus bisa saling
mendukung, dan saya hanya bisa berdoa dalam kebisuan, sehatkan pikiran dan
jasmani agar bisa terlewati hari-hari penentu dengan baik.
Oh tuhan,
begini yang saya jalani selama enam minggu terakhir ini. Sadarkan aku dari
keterpakuanku dalam keheningan. Mohon bangunkan energy-ku dalam tidur
panjangnya. Beberapa hal membuatku sadar bahwa aku menyiakan waktu dan
kesempatan untuk beberapa saat. Dan lagi lagi, aku menyadari kesalahan itu
setelah aku melewatinya. Dan semoga ini menjadi pelajaran untuk selanjutnya,
bahwa apa yang sudah ada merupakan rahmat dan anugerah dari Allah. Ia berikan
yang terbaik dan apa yang dibutuhkan oleh makhluk-Nya. Dan sekali lagi, bersyukur
dengan apa yang didapatkan adalah hal yang paling baik untuk dilakukan. Karena dengan
hal tersebut, hati kan mendapat ketenangan dan jauh dari rasa gelisah. Serta
perbaiki niat awal ketika kita akan memulai segala sesuatu hal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar