Jumat, 11 April 2014

Niat menentukan hasil


Lagi lagi matahari menantang hari dengan cahaya indahnya. Kehangatan ini menyambut pandanganku di pagi hari ketika aku terasingkan kembali dari nafas-nafas hidupku. Aku harap mentari terus seperti ini, dan tak pernah lelah tuk selalu menemani pagi hariku. Angin pagi yang menerpa kulit menyadarkan aku bahwa banyak hal yang harus dilakukan setelah ini.

Bagaimana menggambarkannya, seseorang yang sedang belajar membiasakan diri, menikmati dan menyukai jalan yang dilaluinya. Mungkin dia hanya sanggup berjalan namun tanpa nyawa. Waaah, dalem banget kayaknya. Seperti itu yang saya rasakan saat masuk kuliah di semester dua ini, ada rasa ragu dalam hati. Mampukah sekali lagi saya jalani hidup seperti ini, akankah ‘dewi fortuna’ datang lagi setelah berkali-kali ia datang memberikan keajaiban dalam hidup yang telah saya lalui sebelumnya.

Entah kenapa awal blok ini, saya merasa tak ada kekuatan lebih untuk mengangkat bahu lebih tegap. Saya memang menjalaninya, tapi tidak ada keinginan lebih untuk mengetahui apa yang akan saya jalani, tapi saya juga tidak terpaksa melakukannya. Saya hanya mengikuti kaki yang melangkah dan naluri yang bergerak sendiri. Jasad ini sama sekali tak menolak, tapi entah kenapa terkadang hati ini gelisah melakukannya.

Saya menjalani segala kegiatan kuliah mulai dari ngampus, diskusi kasus, nge-lab maupun melaksanakan tugas-tugas untuk segera mengakhiri blok pertama. Semua saya niatkan seperti itu. Dari pagi hingga siang yang terlihat adalah tulisan demi tulisan, slide demi slide dan materi demi materi. Tapi tak sedikitpun hal yang mampu saya tangkap dari apa yang terlihat. Karena saat itu, saya hanya sekedar melihat dan mendengar tanpa mencoba menyukai dan memahami. Dan yang terlihat memang seperti itu, saya menjalani segalanya tanpa rasa. Selain duduk manis saat kuliah, pulang mengerjakan tugas, saya juga datang praktikum agar dapat mengikuti ident sebagai penentu kelulusan. Jadwal dalam blok ini sangat padat, masuk pagi dan pulang sore. Sampai setengah perjalanan, saya masih merasa sanggup untuk mengikuti kegiatan dengan baik.

Seperti kata mereka yang fasih mengatakan ‘ketika roda berputar, maka salah satu sisi kan berada di bawah ketika sisi yang lain ada di atas’. Sungguh sangat sederhana, namun sulit tuk menerima kenyataannya. Karena pada dasarnya, tidak sedikit dari kita yang merasa ada ketidakadilan ketika datang  kesulitan, dan bukan karena keberuntungan kebahagiaan datang. Yaa, mungkin kali ini saya pun lagi lagi merasa seperti itu. Minggu-minggu akhir blok mulai terasa berat dan harus mengeluarkan tenaga yang cukup untuk bisa melewatinya. Karena beberapa hal mendesak saya untuk menambah waktu belajar dari waktu perkiraan. Inilah hasil yang tidak maksimal dari usaha yang tak maksimal juga. Dalam keadaan seperti ini pikiran dan tenaga harus bisa saling mendukung, dan saya hanya bisa berdoa dalam kebisuan, sehatkan pikiran dan jasmani agar bisa terlewati hari-hari penentu dengan baik.

Oh tuhan, begini yang saya jalani selama enam minggu terakhir ini. Sadarkan aku dari keterpakuanku dalam keheningan. Mohon bangunkan energy-ku dalam tidur panjangnya. Beberapa hal membuatku sadar bahwa aku menyiakan waktu dan kesempatan untuk beberapa saat. Dan lagi lagi, aku menyadari kesalahan itu setelah aku melewatinya. Dan semoga ini menjadi pelajaran untuk selanjutnya, bahwa apa yang sudah ada merupakan rahmat dan anugerah dari Allah. Ia berikan yang terbaik dan apa yang dibutuhkan oleh makhluk-Nya. Dan sekali lagi, bersyukur dengan apa yang didapatkan adalah hal yang paling baik untuk dilakukan. Karena dengan hal tersebut, hati kan mendapat ketenangan dan jauh dari rasa gelisah. Serta perbaiki niat awal ketika kita akan memulai segala sesuatu hal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar