Senin, 24 Agustus 2015

Tau yang diredam

Diam
Hening yang ditinggalkan kepergian
Lagi, lagi dan lagi diam meredam
Lelah kah, jemu atau acuh kah
Entah mana satu alasan
Hanya diam yang bicara

Minggu, 09 Agustus 2015

Terlalu Usang

Kamu tau
Ada banyak waktu yang melewatimu tanpa sapa
Ketika mereka berlalu, tidak banyak hal yang kamu tau
Hany ada dirimu dengan jasadmu
Bertahun-tahun begitu, berkali-kali begitu
Kursi, meja, dan taplak tanpa koran pun tau
Mereka saksi bisu karpet usang tanpa gurau
Saksi bisu yang ingin cuap-cuap tanpa daya
Mereka tau usangnya keadaan ini
Sampai waktunya mereka rapuh nanti
Nanti, ketika mungkin kaki kursi sudah tak tegak lagi
Saat kaki meja tak lurus lagi
Saat saat semuanya sudah menyerah dengan ini
Kamu tau kamu buang waktu
Waktu yang mereka berikan untuk waktumu yang tak seberapa
Teruslah demikian,
Teruslah demikian,

Duduk saja bukan jalan dari niatanmu
Berdiri saja bukan jalan dari usahamu
Berjalan saja bukan bukti dari kerjamu
Berlari sekalipun. .
Waktu takkan sekalipun berjalan mundur mendekatimu
Detik itu tidak akan melambat menunggu jalanmu
Mereka berjalan lambat ataupun cepat, namun pada kekonsistenan mereka pada janji


Senin, 27 April 2015

Pendakian Hemato



Pendakian Wajib
Kita dari Osipital malam ini akan melakukan perjalanan dari Purwokerto menuju terminal Tirtonadi jam 8 malam nih. Persiapan fisik mupun mental udah disiapin dari jauh-jauh hari, meskipun soal logistik sedikit keteteran ketika hari H. Tapi berkat semua anggota dan peserta yang cekatan semua perlengkapan bisa terpenuhi. Kegiatan ini merupakan salah satu proker osipital, dan wajib diikuti oleh anggota muda osipital. Perjalanan kali ini membawa 7 anggota muda dengan 9 anggota inti dan 1 pioneer.
Bus mandala yang mengantarkan kita ke solo ini cukup cepat jalannya, jam 1.30 kita sudah sampai di terminal Tirtonadi. Berhubung bus yang menuju ke tawang mangu baru ada sekitar jam 3 atau 4 guys, akhirnya kita istirahat di musolah di dalam terminal Tirtonadi.

Jam 3.30 kita udah naik bis yang menuju tawang mangu. Dari tirtonadi menuju tawang mangu cukup jauh juga ternyata, kita habisin waktu kurang lebih dua jam dan akhirnya sampai di tawang mangu. Habis itu kita langsung cari mobil buat anter kita ke basecamp Gunung Lawu via Cemoro Sewu. Nih mereka lagi sibuk nyusun carrier kita di atas mobilnya.

Akhirnya kita sampai di base camp Cemoro sewu jam 7.30. Kita semua sempetin buat sarapan dulu di salah satu warung yang ada disana. Setelah sarapan, pemanasan dan ngurusin administrasi, jam 8.45 kita mulai siap-siap buat naik.

 Berhubung pendakian kali ini banyak banget yang pergi, jadi kita udah prepare sejak di Purwokerto bagi perjalanan jadi 4 kelompok kecil. Kelompok kecil ini dibagi sesuai dengan pembagian barang bawaan, setiap kelompok kecil dipastikan punya alat masak, tenda dan bekal makanan yang cukup, siapa tau ada hal yang tidak diinginkan terjadi jadi mereka bisa bertahan hidup.
Perjalanan di mulai jam 9 pagi dari basecamp, kelompok A memulai perjalanan lebih dulu, disusul kelompok B, C dan terakhir D. Awal perjalanan ini kita masih bisa sama-sama lihat senyum dari masing-masing  peserta. Masih ada cerita-cerita yang dibagi selama perjalanan.
Untuk sampai di pos terakhir kita akan melewati 5 pos hingga sampai di warung tertinggi di indonesia nantinya. Perjalanan menuju pos 1 memakan waktu satu jam dan masih  bisa diatasi oleh para anggota tentunya, karena jalan yang terbilang cukup landai dan trek dari bebatuan yg rata.
Dari pos 1 menuju pos 2 ini mulai akan terasa berat karena jalannya dari batu yang tidak rata dan menanjak, kita sampai di pos 2 sekitar jam 1.

Perjalanan menuju pos 3 pun demikian, jalan semakin terjal dan cukup melelahkan, serta menghabiskan waktu 2 jam perjlanan. Dari sini sudah mulai terlihat wajah-wajah yang kurang latihan fisik dengan suara yang mulai merengek kelelahan.
 Trek terjal dan tanpa bonus kita lewati sampai pos 4. Kita sampai di pos 4 jam 5 sore, setelah istirahat cukup lama, kita lanjutkan perjalanan menuju pos 5 dan sampai disana jam 7 malam.

Karena memang sudah larut dan gelap akhirnya kita langsung buat tenda, buat makan dan langsung istirahat. Sebelum tidur tentunya kita harus ganti baju juga biar ga hipotermi.
Jam 4 pagi kita udah bangun buat sarapan. Masak nasi, masak ayam yang udah di bumbuin, bekal dari mbak Bili, dan rencana mau masak sayur sop, sayang sayurnya busuk duluan.
Selesai makan kita langsung bergegas nih siap-siap buat naik ke puncak, jam 5 lebih sedikit kita mulai muncak dan sampai di atas sekitar jam 6.
Ada satu anggota kita yang hebat bertahan mendaki sampai puncak meski berulang kali bilang ga sanggup dari pos 1, hehe. Nih dia, yang harus kita bantu juga ketika jalan menuju puncak, so sweet yaa.
Dan akhirnya kita sampai di Puncak 3.365 mdpl. Meskipun ga dapat sunrise karena cuaca yang ga mendukung, tapi tetap melakukan kebiasaan. Kebiasaannya adalah selfie di puncak rame-rame, dan ini lah awal dari perjalanan kita yang sebenarnya guys, bahwa puncak bukan akhir dari tujuan kita. Karena dalam prosesnya banyak hal yang bisa kita ambil, kebersamaan, saling berbagi, saling menjaga, saling menguatkan, dan saling mengulurkan tangan adalah bagian dari tujuan mendaki gunung. Ketika sudah di puncak, kita akan turun dan berharap semua pelajaran yang kita dapatkan bisa kita aplikasikan tidak hanya ketika mendaki gunung, tetapi dalam kehidupan kita sehari-hari.
Setelah cukup lama di atas, kita turun jam 8 dan langsung bergegas membereskan tenda. Jam 9 tepat kita mulai perjalanan turun ke bawah, jalur yang sama seperti berangkat hanya saja kita trek mundur dari puncak menuju basecamp. Tidak memakan waktu lama seperti berangkat, perjalanan turun ini hanya memakan waktu sekitar 5 jam dan kita sampai di basecamp kurang lebih jam 2 siang. Jam 4 kita menuju tirtonadi. Sekitar jam 6 kita sampai dan lanjut perjalanan ke purwokerto jam 7 dan sampai di Purwokerto jam 1 dini hari.

Sabtu, 20 Desember 2014

Happy Wedding

Ini bukan cuma tentang kamu
Ini bukan cuma tentan dia
Namun, saat ini menjadi tentang kalian
Ketika,
Deklarasi ijab qabul yang menghalalkan
Nafkah halal yang memudahkan

Tapi bukan sekedar di titik itu
Ini menjadi proses dalam perjalanan tanpa akhir
Proses yang selalu sambung menyambung
Ketika dia yang kamu kenal bisa kamu pahami
Ketika dia yang marah bisa kamu mengerti
Ketika dulu hanya kamu, kini ada dia, kalian dan mereka
Pernikahan sebuah paket
Ketika susah menjadi lebih mudah saat dibagi berdua
Ketika sulit menjadi lebih ringan saat dipikul berdua
Ketika bahagia menjadi membahagiakan saat bersama

Semoga menjadi keluarga Sakinah
Merasakan bagaimana keluarga Mawaddah
Membentuk keluarga yang Warahmah
OSI/006/Musculo/053

Jumat, 19 September 2014

Kardus Kecil


Duduk tersungkur, di sudut kamar yang menghakimi kemalangan ini membuat mata terbelalak menyadari kenyataan. Tiada sosok lain selain bayangan diri di bawah lampu redup, dalam ruangan serba sempit, sesak dan kecil itu. Disana mata terbuka dan pikiran meraba tentang masa depan dan masa lalu yang tak terajut dengan kenyataan. Sakit mendapati tragedi dunia yang terjadi pada diri.
Kutipan kecil tentang mimpi dan dunia indah yang berada di luar batas ruang ini membuat tangan dan pikiran bekerja lebih keras dari sekedar duduk dalam lamunan. Mencari jawaban atas kebingungan ini. Apakah itu sebuah ilusi? Mungkinkah sebuah dongeng? Bisakah aku masuk dan ikut serta dalam pentas dongeng indah itu. Tragedi apa yang sedang terjadi sehingga tak terlihat pintu di salah satu dinding yang membatasi gerak tubuhku. Aku bahkan tak melihat kebenaran seperti dongeng indah itu, selain kenyataan tentang kepahitan yang terlihat selama ini.
Sampai dimana usaha ini, usaha tubuh dan tenaga ini untuk berjuang mencapai tujuan yang tertuang dalam mimpi-mimpi. Akan kah terus seperti ini, asa yang tidak akan mampu menembus dinding yang membatasi bayangan dalam ruang yang terbatas ini. Malang ketika menyadari khayalan mampu menerawang menembus tidak sekedar dinding namun juga waktu. Namun, pada kenyataannya khayalan saja yang memiliki hak untuk ber-teleportasi sementara takdir tidak untuk itu.
Sejak dulu tak seorang pun yang mendengar khayalan itu dari balik dinding rumah sempit ini. Tak seorang pun bahkan mampu memahami khayalan-khayalan sederhana ini.  
Aku ini memang bukan darah yang mengalir dalam darahmu, tidak memiliki nama belakang yang sama dengan nama belakangmu, bahkan mungkin tidak dilahirkan di Rumah Sakit super mewah sepertimu. Tapi setidaknya aku tau, bahwa tubuh ini diciptakan oleh Dzat yang sama. Ruh ini diberikan oleh Pencipta yang sama.
Beri aku ruang Tuhan, untuk hanya sekedar mengekspresikan pada dunia tentang harapan kecilku ini, mengatakan pada mereka bahwa aku begini bukan karena keinginanku, bukan karena kecilnya usahaku, tapi ketidakberdayaanku atas himpitan ruang mereka yang lebih besar. Kesempatan yang mereka habiskan untuk nama yang sama. Kesempatan yang mereka bagi dengan pemilik ruang yang setara. Bukan pada kami marmut kecil yang punya kesempatan namun kalah dengan kekuasaan.
Aku hanya ingin menyadarkan mereka para saudaraku. Aku ingin mengatakan pada mereka yang menghimpit pintu kesuksesanku dengan sebuah pertanyaan, “apakah sudah binasa seonggok nurani dalam hati?”. Mungkin kah hujan akan turun? Atau justru petir yang pertama kali akan menyambar dinding rapuh ini? Bukan tuntutan yang aku lontarkan, hanya sebuah keprihatinan tentang matinya sebuah kasih sayang dan simpati. Ku kira lebih baik, berada dalam ruang kecil dibanding dalam ruang besar yang mengabaikan ruang kecil serta mampu memusnahkan asa.
Tamak. Matilah bersama sisa-sisa tulang belulang yang tak berdaya!

Senin, 25 Agustus 2014

Diam sinyal kasih sayangku


Ketika kaki terus bergulir menuju jalan setapak di depan, ketika itu aku memperhatikan langkahmu. Entah bagaimana pusatku teralihkan kembali pada perjalanan kali ini, meski sudah sejak awal aku membatasi pikiranku dan perasaanku untuk berhenti mendekati imajinasiku. Khayalan tentang senyuman mu yang kelak akan menemaniku hingga tua menjelang, semua aku pupuskan dalam-dalam jauh sebelum sampai datangnya hari ini.
Sore hari dengan topangan yang kamu berikan, perjalanan itu terus mengacaukan hatiku. Kenyataannya aku berkata terimakasih, tetapi dalam hatiku berteriak ‘lagi-lagi aku menemukanmu dalam hatiku’. Dan kini aku kisahkan perjalanan panjangku di belakang langkah kakimu.

Pagi buta, aku melihat ada yang aku tunggu untuk segera aku temui
Pagi buta, dari jarak ratusan kilo ada yang aku harap segera aku temui
Berlari mengitari rasa rindu ingin bertemu aku tahan
Berlari mendekati waktu segera datang aku lakoni
Detik itu tiba, ketika aku menemui apa yang aku ingini
Di balik sepasang mata yang belum sempat aku sapa lekat
Di balik wajah yang ingin aku pandangi
Kebiasaan lama aku jalani
Malam gelap, hawa dingin.
Di bawah pantulan bulan yang setengah terang
Aku memandangi dirimu
Aku sampaikan rinduku

Kamu tau, hari kemarin menjadi pengawal hari terindah ku di pagi ini. Perilakumu itu menahan mataku untuk terpejam, mereka seakan protes kalau nanti aku tertidur dan melewatkan hari ini.

Ada langkah yang aku tahan
Ada rasa juga yang aku simpan
Ketika kaki terus melangkah beriringan
Aku berharap hati kita pun demikian
Entah dari mana ide itu berasal
Mungkin karena aku terlalu banyak berkhayal

to be continued

Minggu, 13 Juli 2014

Antara keinginan dan harapan


Tanyakan tentang keinginan, harapan, serta doa-doa yang aku panjatkan 
Beri aku pilihan untuk tujuan hidupku
Tanyakan sekali tentang apa yang membahagiakan bagi duniaku
Tanyakan apa yang membuka pintu-pintu bahagiaku
Tapi sekali lagi
Ku tutup kembali kedua mataku
Ku hapus lagi semua keluh kesahku
Dan, aku!
Membuka mata dan melihat dunia
Betapa
Egois dan tamak pikiranku
Aku di atas dunia yang sama bersama mereka
Dan
Betapa besar keinginan itu atasku
Tiada membahagiakan dibanding doa mereka

Ini keputusanku atau keputusan mereka
Aku harap turunlah ridho-Mu atas jalan ini
Jalan-jalan berduri atau elok pun ku lalui
Naik turun kendaliku
Sesekali aku sesali
Namun penyesalan itu berujung penerimaan kembali
Berkali-kali ku dapati diriku seperti ini
Berkali-kali ku temukan kebimbangan ini

Lihat mereka yang terbaring dengan lemahnya
Betapapun pahit pil itu, mereka telan agar berlalu penderitaan
Kenyataannya,
Kepahitan itu yang akan mengantarkan mereka
Entah itu pada indahnya dunia
Entah itu pada betapa luasnya surga
Namun satu yang pasti
Tiada penyesalan atas pil pahit yang mereka telan
Puas atas usaha yang mereka lakukan

Begitukah aku selama ini?
Apakah aku habiskan waktu seperti itu?
Aku rasa keluhku lebih banyak dari peluhku

Betapa penuh lumpur dan laknatnya
Mengapa harus ku hujat
Do’a
Harapan
Ketulusan
Yang makbul itu
Mengapa ku aniaya dan sayat hati rapuh itu
Batin
Cita-cita tulusnya

Bila ada saatnya mohon maki diriku
Namun bersihnya cintamu
Tak sanggup nodai cintamu untukku
Luasnya maafmu
Tak sanggup tertutup untuk penghinaanku

Aku sesali kebodohanku
Aku temui keegoanku
Kan ku redam
Meski itu harus mengubur keinginanku
Doakan aku, nona
Ikhlas langkahku
Lapang dadaku
Luas pengalamanku
Sanggup ku nikmati perjalanan ini
Ku serahkan seluruhnya pada-Mu