Minggu, 06 Maret 2016

Tranggulasih

Hanya sampai mataku menangkap bayanganmu
Aku hanya akan menunggu
Sampai tiba disana~

Rabu, 30 Desember 2015

Ku sebut Cinta

Mau mengungkapkannya
atau hanya menyimpannya
Tetap saja ku sebut cinta.

Mau dia tau
atau hanya aku yang tau
Tetap saja ku sebut cinta.

Mau ada disampingnya
atau hanya bisa memandangnya
Tetap saja ku sebut cinta.

Kalau Ada

Kalau ada yang berbisik tentangmu
aku akan pura-pura tidak tau
Kalau ada yang bicara tentangmu
aku akan pura-pura tidak mendengar
Kalau ada yang berjalan denganmu
aku akan pura-pura tidak melihat
Kalau ada yang menanyakanmu padaku
aku akan pura-pura jadi bisu

Karena aku tidak mau terlihat
terlihat terlalu memperhatikanmu.

Selasa, 22 Desember 2015

Jingga di pelupuk mata

Tiap kali aku ingin
Tiap kali aku akan
Tiap kali aku mencoba
Berbagi ceritaku dengan dirimu
Selalu saja aku gugurkan
Sebelum sempat aku tumbuhkan

Aku tidak berencana
Tidak berniat
Menumbuhkannya menjadi keegoisan
Membesarkannya dengan keserakahan
Aku hanya ingin menjaganya
Menjaga apa yang kamu jaga
Menjaga apa yang kamu pelihara
Karena dengan begitu
Aku juga menjaga perasaanmu
Aku juga menjaga kisahmu

Seperti jingga di pelupuk mata.

Sabtu, 12 Desember 2015

Kota Cinta



Aku ingin berpuisi.
Maka biarkan aku berpuisi.

Kamu lihat, malam ini
Malam ini begitu pekat
Menutup terang yang menyilaukan
Kamu rasakan, malam ini
Malam ini begitu hangat
Memamerkan bintang tanpa badai

Diambil di Bukit Cinta
Aku sedikit bermelodi
Tentang nada indah dari kegembiraan –ku
Aku cukup tau tentang perasaan ini.
Seperti api yang tak sempat menyampaikan nyalanya pada bara.
Seperti bintang yang tak bisa menyapa birunya langit
Seperti mata yang tak bisa melihat telinga
Seperti senja yang tak sempat menyapa pagi
Kebahagiaanku demikian
Hanya pada norma-norma yang aku rasakan
Hanya pada batas-batas yang boleh kulakukan
Kebahagiaanku demikian sederhana.

Jumat, 23 Oktober 2015

Begini Semestinya



Bisakah nanti, kita akan saling percaya. Percaya yang tidak membuat celah diantaranya. Percaya yang tidak perlu topangan dari dunia luar. Percaya yang hanya ada dalam dunia kita. Percaya yang kita buat dengan gaya dan cara kita sendiri. Percaya dengan segala hal yang kita lakukan di belakang mata kita masing-masing. Percaya tanpa peduli dengan yang lalu. Percaya pada kita yang sekarang. Percaya tanpa ragu. Percaya tanpa luka. Percaya yang kadang menghadirkan tawa, canda dan tangis. Percaya yang menerima. Percaya dengan hati kita satu sama lain.
                Sayangnya di sisi lain, aku bertanya?
                Bisakah nanti kita saling setia. Setia yang menutup celah untuk yang lain. Setia yang hanya mengingat satu nama. Setia yang hanya rindu satu warna. Setia yang harum dengan satu bayangan. Setia yang hanya ada kamu, aku dalam doa-doa kita. Setia dengan segala ucapan kita. Setia dengan segala tingkah kita. Setia yang selalu terang dengan kejujuran. Setia yang selalu teduh dengan kasih sayang. Setia yang tidak menyakiti. Setia yang susah bersama-sama. Setia yang menerima satu sama lain. Setia yang tidak bisa memandang yang lain. Setia yang saling menghidupkan.
                Sayangnya lagi-lagi di sisi lain, aku berpikir?
                Jatuh cinta seperti apa yang bisa membuat seseorang berulang kali jatuh cinta. Jatuh cinta seperti apa yang membuat seseorang bahkan rela kehilangan waktu senggangnya untuk peduli kepada yang tidak peduli. Jatuh cinta macam apa yang bahkan bisa menghentikan dunia yang berputar, menahan waktu yang berjalan, dan mendengar irama musik dari alam sekitar.
                Dan lagi-lagi aku bingung. . . . .
                Masihkah aku percaya, bahwa masih ada kesetiaan yang didasarkan pada kepercayaan masing-masing mereka pada jatuh cinta yang mereka buat. Meskipun satu diantara seribu, satu diantara sejuta, satu diantara milyaran di luar sana. Aku masih percaya masih ada mereka yang menua bersama, menjadi keriput bersama, menjadi rapuh bersama, menjadi rabun bersama, menjadi lansia bersama. Bersama-sama, mereka saling menguatkan, satu sama lain saling menopang, saling meringankan.
                Aku yakin, bahwa kita saling seperti ini.
                Cinta yang tidak mengenal kasta, ras, dan usia.

Senin, 24 Agustus 2015

Tau yang diredam

Diam
Hening yang ditinggalkan kepergian
Lagi, lagi dan lagi diam meredam
Lelah kah, jemu atau acuh kah
Entah mana satu alasan
Hanya diam yang bicara